Langsung ke konten utama

Review Buku Publik Relations

        
         Tulisan ini berisi hasil review saya terhadap buku “Public Relations Writing: Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat, 2016, yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono” Review kali ini tidak akan mengulas secara keseluruhan buku tersebut, saya hanya akan mereview pada BAB 1 yang tersaji saja, yakni: Public Relations Profesional. Tujuan review ini adalah, selain untuk memenuhi penugasan yang diberikan oleh dosen mata kuliah Dasar-dasar Public Relations, juga bertujuan untuk menjelaskan tentang kiat-kiat untuk menjadi seorang Praktisi Public Relations Profesional.
  1. Definisi PR
              Sebelum menuju kiat-kiat untuk menjadi praktisi PR profesional, saya menemukan bahwa Kriyantono (2016) menyampaikan tentang definisi dari PR terlebih dahulu yang terdapat pada awal BAB, Kriyantono mengatakan bahwa pengertian dari public relations berbeda dengan istilah humas (hubungan masyarakat) yang sering disamakan antara keduanya. Menurut penjelasan Kriyantono, penggunaan istilah humas tidaklah tepat, karena arti kata “public” dalam public relations berbeda dengan arti kata “masyarakat” yang ada dalam istilah hubungan masyarakat. Uniknya, pernyataan tersebut saya temukan juga dalam buku Effendy (2006) dengan judul “Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek”. Effendy juga sama menjelaskan bahwa istilah humas dan public relations merupakan dua hal yang berbeda, terkait tentang makna dari kata “public” juga kata “masyarakat” juga sama disampaikan di dalam bukunya tersebut. Mungkinkah kedua penulis ini merujuk pada satu pemikir yang sama? Akan tetapi keduanya sama-sama tidak mencantumkan ataupun mengutip darimana pemikiran itu berasal.
  1. Public Relations Profesional
            Pemahaman tentang profesi public relations profesional dijabarkan oleh Kriyantono ke dalam konsep-konsep tentang karakteristik public relations, tujuan, fungsi, bidang pekerjaan maupun alat-alat yang digunakan oleh praktisi public relations  dalam melakukan pekerjaannya. Tujuan yang dimaksud adalah antara lain menciptakan pemahaman (mutual understanding) antara perusahaan dan publiknya, membangun citra korporat, citra korporat melalui program CSR, membentuk opini publik yang favourable dan membentuk goodwill dan kerja sama. Poin-poin tujuan tersebut cukup menjelaskan secara umum dan lugas tentang bagaimana hal-hal yang seharusnya dicapai oleh praktisi PR dalam suatu perusahaan atau lembaga-lembaga tertentu. Penjelasan terkait masing-masing dari tujuan tersebut juga dijelaskan cukup detail dan rinci di dalam BAB ini. Akan tetapi dua poin tujuan, yakni membangun citra korporat dan citra korporat melalui program CSR menurut saya adalah dua hal yang tidak seharusnya dipisahkan dalam tujuan dari pekerjaan public relations sendiri. Karena menurut pendapat saya, citra korporat melalui program CSR merupakan salah satu cara dari tujuan untuk membangun citra korporat tadi, program CSR termasuk ke dalam bagian dari cara guna membangun citra korporat, bukan seharusnya dipisah menjadi dua poin yang berbeda. Lalu berikutnya fungsi dari public relations, fungsi public relations tidaklah jauh berbeda dari tujuan tadi. PR memiliki fungsi antara lain memelihara komunikasi yang harmonis antara perusahaan dengan publiknya, melayani kepentingan publik dengan baik dan memelihara perilaku dan moralitas perusahaan dengan baik. Di dalam buku, Kriyantono mengutip fungsi PR menurut Cutlip & Center untuk memperkuat pendapatnya. Pandangan tentang fungsi dari Cutlip & Center memang kurang lebih sama dengan pandangan dari Kriyantono. Berikutnya ruang lingkup pekerjaan PR. Di dalam buku saya tertarik dengan bagaimana Kriyantono menjabarkan ruang lingkup pekerjaan dari PR ini menjadi sebuah akronim yang mudah untuk diingat, yaitu PENCILS. Memudahkan dalam menghafal dan mengerti. PENCILS sendiri merupakan kependekan dari Publication & Publicity, Events, News, Community Involvement, Identity-Media, Lobbying dan Social Investment. Penjabaran dari masing-masing ruang lingkup pekerjaan PR tersebut dijelaskan dengan cukup padat dan jelas dengan hanya menggunakan beberapa kalimat saja tiap masing-masingnya, sehingga memudahkan dalam memahaminya. Selain menurut pendapatnya sendiri, Kriyantono juga lagi-lagi mengutip pendapat dari Cutlip & Center dan kali ini juga dengan Broom terkait ringkasan dari pekerjaan yang dilakukan oleh praktisi PR di tempat kerjanya. Dan yang terakhir, public relations tools (media public relations). Untuk dapat melakukan pekerjaannya, seorang praktisi PR harus mempunyai alat-alat kegiatan (PR tools) atau bisa juga disebut sebagai media publc relations. Alat-alat ini telah di dalam buku sebutkan satu persatu secara lengkap beserta penjelasannya yang ringkas.
            Dan itulah hal-hal yang saya temukan di dalam buku Kriyantono, Public Relations Writing: Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat. Terkhusus pada BAB 1: Public Relations Profesional. Sebagai kesimpulan, mengutip dari halaman 34 “Public relations adalah profesi yang menuntut integrasi antara pengetahuan (expertise), keahlian (skills), dan etika profesi (ethics). Seorang praktisi public relations dituntut mempunya 3B (beauty, brain & behavior). Tidak hanya cantik, ganteng dan berpenampilan menarik (beauty), tetapi juga harus berwawasan luas & skillful (brain/expertise), dan berperilaku baik (behaviour/ethics)”. Kutipan tersebut merupakan salah satu yang saya sangat setuju terkait tentang PR sendiri. Karena seorang profesional bagaimanapun alih-alih bekerja dengan baik, juga harus diimbangi dengan perilaku dan attitude yang baik pula.
            Secara umum, tulisan Kriyantono telah bisa memberikan pengetahuan baru tentang public relations profesional, tentang bagaimana menjadi seorang praktisi PR yang baik dan benar beserta konsep-konsep yang tersedia. Namun terlepas dari konten isi dari buku ini yang penuh dengan manfaat, izinkan saya untuk sedikit mengkritik tentang penulisan dari Kriyantono dalam buku ini, khususnya pada BAB 1. Saya merasa bahwa penggunaan kata “public relations” dalam BAB ini (mungkin dalam buku ini) sangat kurang pas. Dalam banyak kalimat, penggunaan kata public relations sering digunakan sebagai kata ganti orang. Padahal kata public relations sendiri sebenarnya adalah merujuk pada pekerjaan, bukan pekerjanya. Karena pekerjanya sendiri lebih pas disebut dengan seorang praktisi PR. Sebagai contoh, pada halaman 7 terdapat kalimat: “Perusahaan harus mampu memahami kondisi nyata publiknya. Public relations harus memulai aktivitasnya dengan bertanya” disitu tertulis seolah public relations merupakan orang yang melakukan pekerjaan PR, padahal secara harfiah itu salah besar. Itu dia merupakan mungkin salah satu kesalahan kecil yang terdapat dalam buku ini. Salah satu kesalahan kecil diantara banyaknya penjelasan lengkap terkait tentang public relations. Akan tetapi agar lebih bisa memberikan deskripsi yang lebih mendalam, saya merekomendasikan buku karya Effendy (2006) dengan judul “Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek”.
Daftar Pustaka
Kriyantono, R. (2016). Public Relations Writing: Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat. Prenadamedia Group: Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STISIPOL CANDRADIMUKA RESMI MEMBUKA PROGRAM PASCASARJANA S2 ILMU KOMUNIKASI

Palembang, 14 Maret 2019 – Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Candradimuka Palembang, Sumatera Selatan semakin mantap membuka prodi Magister (S2) Ilmu Komunikasi. Hal ini ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) izin pembukaan Magister (S2) Ilmu Komunikasi oleh Kementerian Riset,Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Penyerahan SK diwakili Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II Prof. Slamet Widodo,M.Si kepada Ketua Stisipol Candradimuka Dr. Lishapsari Prihatini, MSi pada saat Bimbingan Teknis Pembuatan Dokumen Akreditasi Institusi dan Program  Studi Bagi Perguruan Tinggi di Lingkungan LLDIKTI Tahun 2019 di Hotel Novotel Bandar Lampung, Kamis (14/3/2019).

Perjalanan tiga tahun menjadi Mahasiswa Stisipol Candradimuka

halo kawan-kawan, Perkenalkan saya Dicky Anugrah Mahasiswa ilmu komunikasi semester 6 Stisipol Candradimuka. (foto waktu masih menjadi mahasiswa baru semseter satu) Menjadi mahasiswa tiga tahun candradimuka telah banyak saya rasakan suka dan dukanya. Saya dari awal kuliah sambil berkerja, betapa sulitnya mengatur jadwal antara kuliah dan berkerja  tapi itu suatu tantangan yang saya jalani dengan semangat, alhamdulillah hingga sampai saat ini. M otivasi saya memilih jurusan komunikasi sebenarnya untuk menghindari menghitung angka-angka matematika, karena saya tidak cukup tertarik dengan angka-angka wkwk. menjadi mahasiswa ilmu komunikasi menurut saya adalah pilihan tepat, karena menjadi mahasiswa ilmu komunikasi membuat saya percaya diri saat berbicara menyampaikan pesan di depan orang apalagi didepan gebetan yang saya inginkan menjadi pasangan (sedikit gugup sih waktu pdkt haha manusiawi). bukan itu saja, Mempelajari ilmu komunikasi juga megikuti perkembangan zaman sekarang di era ...